Mereka yang Tinggal di Pinggiran Waktu

Anak-anak adalah satu-satunya spesies di dunia yang mampu membangun istana dari selimut dan mengubah lantai kamar menjadi lautan lava yang berbahaya. Mereka adalah arsitek dunia mikro, ahli kimia perasa, dan filsuf yang tidak pernah sadar bahwa mereka sedang berfilsafat.

Ada sesuatu yang menarik perhatian kita pada mereka. Bukan karena mereka lucu atau imut meskipun itu juga benar melainkan karena mereka memandang dunia dengan cara yang sudah lama kita lupakan: sebagai tempat yang belum selesai. Bagi kita, pohon adalah pohon. Bagi anak-anak, pohon adalah tempat persembunyian, kapal bajak laut, atau gerbang menuju negeri ajaib. Mereka tidak menerima dunia apa adanya; mereka menerima dunia sebagai bahan baku.

Perhatikan cara mereka bertanya. Orang dewasa bertanya untuk mencari jawaban, tetapi anak-anak bertanya untuk membangun jembatan. "Mengapa langit biru?" bukanlah pertanyaan tentang fisika atmosfer, melainkan permintaan untuk diajak berdialog. Saat kita memberi mereka jawaban ilmiah, mereka sering terdiam, bukan karena puas, tetapi karena mereka sudah sibuk memikirkan pertanyaan berikutnya: "Kalau langit biru, lalu siapa yang mewarnainya?"

Kekuatan paling aneh yang dimiliki anak-anak adalah ketidakmampuan mereka untuk membosankan. Mereka bisa mengubah antrean di supermarket menjadi tarian, atau hujan deras menjadi undangan untuk bernyanyi. Bagi mereka, waktu tidak berjalan lurus seperti sungai; waktu menggenang seperti kolam. Mereka bisa menghabiskan satu jam hanya untuk mengamati bagaimana seekor semut menarik remahan roti, dan dalam satu jam itu, mereka melihat drama kehidupan, perjuangan, dan pengorbanan sesuatu yang mungkin tidak kita lihat meskipun menonton film dokumenter seharian.

Namun, di balik semua keajaiban itu, ada sisi rapuh yang sering kita abaikan. Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak mendengarkan nasihat kita; mereka menonton hidup kita. Ketika kita sibuk dengan ponsel, mereka belajar bahwa layar lebih penting daripada tatapan mata. Ketika kita terburu-buru, mereka belajar bahwa kecepatan lebih berharga daripada perasaan. Mereka adalah cermin yang jujur, dan terkadang, cermin itu terlalu jujur untuk kita terima.

Menariknya, anak-anak tidak pernah menyimpan dendam terhadap dunia yang sering tidak adil bagi mereka. Mereka menangis keras, tetapi lima menit kemudian, mereka sudah tertawa lagi karena menemukan bayangan mereka sendiri. Itu karena mereka hidup di "kini" yang absolut. Masa lalu adalah kemarin yang sudah usang, dan masa depan adalah hari esok yang entah kapan datangnya. Yang ada hanyalah sekarang, dan sekarang selalu cukup.

Maka, ketika kita berbicara tentang anak-anak, jangan hanya berbicara tentang masa depan mereka. Bicaralah tentang masa kini mereka yang begitu kaya, yang sering kita lewatkan karena terlalu sibuk memikirkan target dan pencapaian. Mereka tidak sedang dalam perjalanan menuju menjadi sesuatu; mereka adalah sesuatu. Mereka adalah pengingat bahwa kehidupan, pada dasarnya, adalah permainan yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan ringan pada saat yang bersamaan.

Baca Juga: Etika dalam Demokrasi: Pedoman untuk Penyelenggara, Peserta, dan Pemilih

Di mata mereka, kita bukanlah orang dewasa yang bijaksana. Kita hanyalah orang-orang besar yang sudah lupa cara terbang. Dan mungkin, tugas kita yang paling penting bukanlah mengajari mereka menjadi pintar, melainkan menjaga agar mereka tidak kehilangan kemampuan untuk takjub, bertanya, dan membangun istana dari selimut, setidaknya untuk beberapa waktu lagi.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 141 Kali.
🔊 Putar Suara